pagi ini, saya sangat ingin menulis. sekedar ingin menulis, aktivitas
yang lebih saya sukai dari pada berinteraksi dengan banyak orang.
aktivitas yang menyenangkan dan tentunya menghilangkan semua kegundahan
hati ^_^. kali ini, saya ingin menulis tentang mengalah demi untuk
kebaikan bersama.
yup, mengalah, mungkin sebuah kata yang
gampang untuk ditulis, hanya butuh waktu 3 detik untuk menuliskannya
tapi kadang butuh waktu bertahun-tahun untuk melakukannya dan saya yakin
hampir semua orang pernah melakukkannya. entah mengalah untuk
memberikan mainan terbarunya untuk adiknya atau memberikan mimpinya
untuk orang lain bahkan mungkin memberikan orang yang kita sayang untuk
orang lain. banyak sekali sisi mengalah yang lain tapi intinya hanya
satu mencoba menglepaskan apa yang sebernarnya kita inginkan untuk
kebahagiaan yang lain.
sakit, pasti dan saya yakin pasti
ada tetesan air mata disana. apakah saya pernah merasakannya? jawabannya
adalah sering. walaupun saya anak pertama, saya terbiasa mengalah,
terbiasa mencoba memahami orang lain. karena sejak kecil, ibu saya
selalu bilang "sing warang ngalah" *yang sehat mengalah* atau "sing
gedhe ngalah" yang besar ngalah. mungkin karena itulah, saya terbiasa
diam saat saya tidak ingin melepaskan. saya terbiasa menyendiri saat
tekanan mendera saya. toh saya yakin diam lebih baik daripada berbicara
^_^ tapi walau susah, mengalah itu kadang diperlukan untuk kemaslahatan
bersama.
sewaktu SD saya punya impian, saya melanjutkan ke
SMP 2 yang notabene SMP favorit di kota saya dan mungkin adalah idaman
semua anak kecil waktu itu. saya sangat menginginkannya, sungguh saya
sering diam2 melihat gerbangnya ketika kebetulan saya main ke kota dan
orang tua saya menjanjikan saya boleh sekolah disana jika semua nilai yg
di UAN-kan lebih dari 8. itulah motivasi saya untuk terus belajar,
akhirnya pengumuman NEM keluar dan saya bisa memenuhi itu tapi tidak
pernah saya sangka sebelumnya bapak saya meminta saya sekolah di desa
tempat tinggal saya karena waktu itu tahun 97, awal2 krismon dan ibu
saya hanya diam, akhirnya saya mengerti saya harus mengalah. itulah kali
pertama saya menangis sesenggukan karena saya harus mengalah.
ketika
saya meluluskan SMA, orang tua saya minta saya untuk melanjutkan kuliah
di tempat yang mereka inginkan. ego saya berkata, kali ini saya ga akan
menyerah saya menolaknya karena saya tidak pernah tertarik kuliah
disana. diam2 sewaktu saya mengambil jurusan ini dan ternyata lulus.
agak keberatan tapi akhirnya saya merasa menang karena diperbolehkan
masuk disini tapi dengan konsekuensi saya harus mengencangkan ikat
pinggang dan yang pasti saya lebih lama menyelesaikan masa studi saya.
menyesal, ya saya pernah merasakannya. menyesal karena tidak mengalah
dengan keinginan ortu. menyesal karena membuat orang yg paling saya
sayangi berkorban mati2an untuk memuaskan keinginan saya. begitulah
hidup, kadang apa yang kita sukai belom tentu baik untuk kita, dan apa
yang kita benci belom tentu buruk buat kita.
yah begitulah
mengalah. kadang mengalah itu sulit tapi yakinlah jika itu memang
membawa kemaslahatan bersama kenapa tidak.... pun ketika kita harus
mengalah menyerahkan orang yang mungkin kita sayangi untuk seseorang
yang lebih dulu mengenalnya memang sakit, tapi jika itu memang membawa
kebaikan buat bersama kenapa tidak kita lakukakan. apalagi seseorang itu
adalah seseorang yang tidak berkompeten dan tidak berkomitmen.
lepaskanlah, yakinlah kita akan menemukan seseorang yang lebih baik
darinya. hati-hati bermain api, seperti pepatah jawa "witing tresno
jalaran seko kulino amargo ora ono liyo " *timbulnya cinta karena
terbiasa dan ga ada yang lain lagi*. semakin keras bilang "tidak"
semakin saya mengerti faktor kebiasaan sudah berubah menjadi cinta.
sampai sekarang saya meyakini seorang lelaki sejati adalah ketika dia
tertarik ke perempuan maka dia akan mendatangi orang tuanya ^_^ (semoga
keyakinan ini tidak berubah detik selanjutnya). mengalahlah jika
mengalah itu diperlukan, toh mengalah itu bukan berarti kalah. bukan
berarti kita menurunkan harga diri kita. apakah kita rela mengacak-acak
seperempat perjalanan hidup kita hanya untuk seseorang yang cuma
seperenambelas perjalanan hidup kita??lepaskanlah karena sebentar lagi
akan ada yang lebih baik darinya insyaAllah, seseorang yang lebih
berkompeten dan yang pasti lebih berkomitmen. karena hidup itu seperti
pelangi, warnanya indah karena ada hujan dera sebelumnya. ^_^
Kamis, 24 Mei 2012
Minggu, 06 Mei 2012
merasa kehilangan sebelum memiliki T_T .. sebuah catatan kecil
merasa kehilangan
sebelum memiliki...itulah yang kerap kali manusia rasakan dan naasnya
saya berulangkali merasakannya. saya sering menganggap sesuatu adalah
milik saya walaupun hakikatnya semua itu belum pernah dimiliki sama
sekali. seperti anak kecil, saya kerap kali merengek2 meminta mainan
yang mungkin mainan itu hanyalah mainan biasa dan ego saya mengatakan
saya harus memilikinya. padal saya sama sekali tidak tau indahnya mainan
itu, bagaimana mainan itu beroperasi dan kualitas mainan itu. yang saya
pikir mainan itu bisa membuat hidup saya bahagia, akhirnya setelah
rengekan yang terus menerus, si pemilik mainan meminjamkan mainan itu
pada saya.
bukan kepalang bahagianya setelah mendapatkan mainan itu, mainan yang selama ini saya idamkan akhirnya saya dapatkan. mainan itu membuat saya merasa bahagia, senyum tak pernah lepas dari bibir saya saat saya menatap mainan itu dan yang pasti mainan itu mampu membuat saya melupakan mainan2 lainnya.
waktunya tiba, sang pemilik mainan itu mengambilnya padahal saya masih sangat menginginkan mainan itu. ingin rasa nya menangis sekeras2nya saat mainan itu diambil tapi apa mau dikata mainan itu bukan milik saya. ego dan hati saya berontak, ego saya untuk mempertahankannya dan hati saya yang mencoba pasrah mengembalikannya....
sedih memang tapi lebih sedih lagi saat mainan itu dipinjamkan pemiliknya ke orang lain...kecewa, hancur dan merana campur jadi satu. walo saya tau orang itu lebih layak mendapatkan mainan itu, dan mungkin saya tidak lebih membutuhkan dibanding orang itu. lagi dan lagi, ego saya berkata lain, ingin rasanya mengambil kembali mainan itu sedangkan hati mencoba mengikhlaskannya.... yup, ikhlas kata yang paling mudah diucapkan tapi merupakan kata terberat untuk diaplikasikan. senyum ini mengembang seolah2 hati ini ikhlas tapi kenyataannya hati ini sama sekali tidak ikhlas. dan saat itulah saya merasakan menjadi manusia paling munafik di dunia ini.
yah, ternyata semua teori yg ada di kepala saya hanyalah teori belaka, secara teori, saya harus ikhlas karena semua itu bukan milik saya sepenuhnya. tapi kenyataannya saya masih berat merelakannya, berat melepaskannya. saya baru mengerti hidup itu bukan hanya sebuah teori2 muluk tapi pengaplikasianlah yg lebih penting. walau tak bisa dipungkiri kita harus mencari teori2 yang super duper banyak. bukankah ilmu mendahului amal
wahai Pemilik mainan, Engkau lebih tau perasaan saya, Engkaulah penggengam hati. jika memang mainan itu bukan yang terbaik maka balikkanlah hati saya untuk tidak menginginkan mainan itu, tapi jika memang mainan itu memang layak saya miliki, tolong izinkanlah saya memiliki mainan itu selamanya
bukan kepalang bahagianya setelah mendapatkan mainan itu, mainan yang selama ini saya idamkan akhirnya saya dapatkan. mainan itu membuat saya merasa bahagia, senyum tak pernah lepas dari bibir saya saat saya menatap mainan itu dan yang pasti mainan itu mampu membuat saya melupakan mainan2 lainnya.
waktunya tiba, sang pemilik mainan itu mengambilnya padahal saya masih sangat menginginkan mainan itu. ingin rasa nya menangis sekeras2nya saat mainan itu diambil tapi apa mau dikata mainan itu bukan milik saya. ego dan hati saya berontak, ego saya untuk mempertahankannya dan hati saya yang mencoba pasrah mengembalikannya....
sedih memang tapi lebih sedih lagi saat mainan itu dipinjamkan pemiliknya ke orang lain...kecewa, hancur dan merana campur jadi satu. walo saya tau orang itu lebih layak mendapatkan mainan itu, dan mungkin saya tidak lebih membutuhkan dibanding orang itu. lagi dan lagi, ego saya berkata lain, ingin rasanya mengambil kembali mainan itu sedangkan hati mencoba mengikhlaskannya.... yup, ikhlas kata yang paling mudah diucapkan tapi merupakan kata terberat untuk diaplikasikan. senyum ini mengembang seolah2 hati ini ikhlas tapi kenyataannya hati ini sama sekali tidak ikhlas. dan saat itulah saya merasakan menjadi manusia paling munafik di dunia ini.
yah, ternyata semua teori yg ada di kepala saya hanyalah teori belaka, secara teori, saya harus ikhlas karena semua itu bukan milik saya sepenuhnya. tapi kenyataannya saya masih berat merelakannya, berat melepaskannya. saya baru mengerti hidup itu bukan hanya sebuah teori2 muluk tapi pengaplikasianlah yg lebih penting. walau tak bisa dipungkiri kita harus mencari teori2 yang super duper banyak. bukankah ilmu mendahului amal
wahai Pemilik mainan, Engkau lebih tau perasaan saya, Engkaulah penggengam hati. jika memang mainan itu bukan yang terbaik maka balikkanlah hati saya untuk tidak menginginkan mainan itu, tapi jika memang mainan itu memang layak saya miliki, tolong izinkanlah saya memiliki mainan itu selamanya
Sabtu, 03 Maret 2012
negeri 5 menara
sekarang saya tidak ingin mengulas tentang bumi, bintang dan senja
tapi kali ini saya ingin menulis tentang film yang hari kamis kemarin
saya tonton. film negeri menara adalah film yang diadaptasikan dari
novel yang berjudul sama. film ini sudah saya tunggu penayangannya sejak
akhir tahun kemarin. akhirnya tayang juga hari kamis tgl 1 kemarin,
dengan sedikit perjuangan akhirnya nonton juga ^_^
film yang mengisahkan tentang perjuangan seorang anak manusia, bernama alif yang berasal dari salah satu daerah di Sumatra barat. anak yang tergolong pandai yang sangat ingin melanjutkan sekolah di SMA favorit selepas SMP. karena, menurut dia itulah pintu gerbangnya untuk meraih mimpi masuk ITB. bagi dia, ITB adalah impiannya sejak kecil bersama sohib sekaligus pesaingnya, randai. ternyata impiannya tak sejalan dengan impian amaknya. amaknya ingin alif masuk pesantren karena amaknya berpendapat bahwa harus ada regenerasi dari buya hamka karena selama ini yang masyarakat tau bahwa pesantren adalah tempat anak2 nakal atau tempat anak2 yang tidak diterima di sekolah umum. alif menentang keinginan amaknya walau akhirnya ia patuh menuruti kemauan amaknya. adegan ini adalah adegan pertama yang yang membuat saya meneteskan air mata ketika ayahnya bilang ke alif "pernahkah amakmu memaksakan kehendaknya ke waang? tidak kan, amakmu mulia, isa memikirkan masalah umat" hiks, saya jadi ingat ibu saya, beliau adalah ibu yang pernah memaksakan kehendaknya kepada saya sampai detik ini, dan mungkin semua ibu di dunia juga melakukan hal yang sama.
pergolakan batin terjadi disini, antara ingin mewujudkan impian sendiri atau menurut dengan orang tua. perjalan ke tanah jawapun dimulai, sampailah ia ke pondok madani, pengambilan lokasi shootingnya di pondok gontor, ponorogo dan ini baru pertama kalinya saya melihat pondok gontor, pondok modern terkenal itu ^_^. ternyata sekolah di pondok madani 4 tahun, karena ada masa perkenalan 1 tahun, makin saja membuat alif putus asa dengan ITB. tes masuk pun diikuti, awalnya alif berniat untuk mencoret jawaban yang salah tapi setelah melihat muka bapaknya yang mengantar dia tes, akhirnya dia mengganti dengan jawaban yang benar. dengan rencana Allah, masuklah alif ke pondok madani.
perjuangan disini pun dimulai, dia sekamar dengan teman2nya dari berbagai daerah yang kemudian bersahabat dan menjadi sahibul menara. karakter yang berbeda tapi menyebabkan mereka bersatu. pelajaran pertama di pondok madani adalah MAN JADDA WAJADDA, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. resep pertama dalam menjalani hidup. kata2 yang saya ingat dari film ini "orang besar adalah orang yang setelah mendapatkan ilmu disini, dia akan mengamalkannya ke pelosok2 daerah"...hmmmm apakah saya sudah menjadi orang besar?? apakah ilmu yang saya dapatkan sudah saya amalkan. benar2 sentilan kecil
kedisplinan, kerja keras itulah yang mewarnai perjalanan alif di pondok madani. di film ini penggambarannya agak sedikit, lebih lengkap di novelnya ^_*.
sewaktu liburan alif main ke bandung, ke salah satu rumah temennya di bandung. dia sempatkan ke kosan temennya randai dan mereka jalan2 ke ITB, kebetulan waktu itu ada seminar nasional dengan pembicara pak habibie. disinilah sisi dramatis diliatkan, saya trenyuh ketika melihat ekspresi muka alif ketika melihat seminar itu, saya seakan masuk ke dalam film itu... saya merasakan kepedihan alif yang merasakan ITB jauh dari genggaman dia. saya merasakan kembali menggunakan mesin waktu saat universitas impian saya seakan jauh menghindari saya :P. saya terbawa emosi mungkin karena saya sudah baca novelnya dan saya sangat menyukai novel ini.
adegan mengharukan selanjutnya yang sukses membuat air mata saya meleleh adalah ketika baso-sahabat alif harus berhenti sekolah di pesantren karena harus pulang ke gorontola, neneknya sakit parah. disinilah adegan yang mempu membuat saya tergugu. saat membaca novelpun, cerita ini membuat saya nangis bombay. kata2 baso di novel sungguh membuat saya kagum ^_^. disinilah pergolakan hati alif kembali terjadi, dia ingin keluar dari pondok dan pindah ke sekolah umum demi mengejar ITB. disini hanya diceritakan sedikit tapi tidak mengurangi makna, lengkapnya ada di novel. lagi dan lagi saya bilang novelnya sungguh mengesankan buat saya. kata2 ibu alifwaktu alif ingin keluar dari pondok "maapkan amak sudah memaksakan keinginan amak tapi semua itu buat kebaikan waang, mak sudah menandatangi surat pindahan kamu. pesan mak DIMANAPUN WAANG SEKOLAH TIDAK PENTING YANG PENTING WAANG BERSUNGGUH-SUNGGUH" wah bener2 so sweet.
akhirnya singkat cerita, alif tidak jadi pindah sekolah. dia tetap di pondok. film ini diakhiri dengan pertemuan alif dan kedua temannya di eropa ^_^. semua sahibul menara bisa meraih impiannya, semua berawal dari mimpi, mari kita bermimpi, mari tuliskan mimpi kita. jangan takut untuk bermimpi, karena mimpi itu yang akan menggerakan arah jalan kita. dan satu lagi, feeling ibu selalu tepat dan saya menyakini itu sampai detik ini. tidak ada salahnya ketika kita menyatukan mimpi kita dengan ibu kita
yang saya sesalkan di buku ini adalah kenapa lakon randai kurang cakep dibandingkan alif. harusnya seimbang, karena alf dan randai dua bersahabat yang bersain secara sehat dalam semua hal. dan dalam imajinasi saya alif dan randai, 2 orang yang seimbang dan mungkin lebih jago randai karena di novel ke2 nya, diceritakan randai bisa mendapatkan apa2 yg alif inginkan :P. novel ke2nya sama2 seru dan saya sedang menunggu novel ke3. satu lagi dari film ini yang mengingatkan saya dengan impian masa kecil saya "menjadi jurnalis, bisa merubah dunia dengan kata"..... yup, dari dulu saya ingin merubah dunia dengan tulisan saya, minimal mempengaruhi orang dengan tulisan2 saya.... dan saya ingin jadi penulis.
sekian dan terima kasih (efek tidak ke RSGM)
film yang mengisahkan tentang perjuangan seorang anak manusia, bernama alif yang berasal dari salah satu daerah di Sumatra barat. anak yang tergolong pandai yang sangat ingin melanjutkan sekolah di SMA favorit selepas SMP. karena, menurut dia itulah pintu gerbangnya untuk meraih mimpi masuk ITB. bagi dia, ITB adalah impiannya sejak kecil bersama sohib sekaligus pesaingnya, randai. ternyata impiannya tak sejalan dengan impian amaknya. amaknya ingin alif masuk pesantren karena amaknya berpendapat bahwa harus ada regenerasi dari buya hamka karena selama ini yang masyarakat tau bahwa pesantren adalah tempat anak2 nakal atau tempat anak2 yang tidak diterima di sekolah umum. alif menentang keinginan amaknya walau akhirnya ia patuh menuruti kemauan amaknya. adegan ini adalah adegan pertama yang yang membuat saya meneteskan air mata ketika ayahnya bilang ke alif "pernahkah amakmu memaksakan kehendaknya ke waang? tidak kan, amakmu mulia, isa memikirkan masalah umat" hiks, saya jadi ingat ibu saya, beliau adalah ibu yang pernah memaksakan kehendaknya kepada saya sampai detik ini, dan mungkin semua ibu di dunia juga melakukan hal yang sama.
pergolakan batin terjadi disini, antara ingin mewujudkan impian sendiri atau menurut dengan orang tua. perjalan ke tanah jawapun dimulai, sampailah ia ke pondok madani, pengambilan lokasi shootingnya di pondok gontor, ponorogo dan ini baru pertama kalinya saya melihat pondok gontor, pondok modern terkenal itu ^_^. ternyata sekolah di pondok madani 4 tahun, karena ada masa perkenalan 1 tahun, makin saja membuat alif putus asa dengan ITB. tes masuk pun diikuti, awalnya alif berniat untuk mencoret jawaban yang salah tapi setelah melihat muka bapaknya yang mengantar dia tes, akhirnya dia mengganti dengan jawaban yang benar. dengan rencana Allah, masuklah alif ke pondok madani.
perjuangan disini pun dimulai, dia sekamar dengan teman2nya dari berbagai daerah yang kemudian bersahabat dan menjadi sahibul menara. karakter yang berbeda tapi menyebabkan mereka bersatu. pelajaran pertama di pondok madani adalah MAN JADDA WAJADDA, siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil. resep pertama dalam menjalani hidup. kata2 yang saya ingat dari film ini "orang besar adalah orang yang setelah mendapatkan ilmu disini, dia akan mengamalkannya ke pelosok2 daerah"...hmmmm apakah saya sudah menjadi orang besar?? apakah ilmu yang saya dapatkan sudah saya amalkan. benar2 sentilan kecil
kedisplinan, kerja keras itulah yang mewarnai perjalanan alif di pondok madani. di film ini penggambarannya agak sedikit, lebih lengkap di novelnya ^_*.
sewaktu liburan alif main ke bandung, ke salah satu rumah temennya di bandung. dia sempatkan ke kosan temennya randai dan mereka jalan2 ke ITB, kebetulan waktu itu ada seminar nasional dengan pembicara pak habibie. disinilah sisi dramatis diliatkan, saya trenyuh ketika melihat ekspresi muka alif ketika melihat seminar itu, saya seakan masuk ke dalam film itu... saya merasakan kepedihan alif yang merasakan ITB jauh dari genggaman dia. saya merasakan kembali menggunakan mesin waktu saat universitas impian saya seakan jauh menghindari saya :P. saya terbawa emosi mungkin karena saya sudah baca novelnya dan saya sangat menyukai novel ini.
adegan mengharukan selanjutnya yang sukses membuat air mata saya meleleh adalah ketika baso-sahabat alif harus berhenti sekolah di pesantren karena harus pulang ke gorontola, neneknya sakit parah. disinilah adegan yang mempu membuat saya tergugu. saat membaca novelpun, cerita ini membuat saya nangis bombay. kata2 baso di novel sungguh membuat saya kagum ^_^. disinilah pergolakan hati alif kembali terjadi, dia ingin keluar dari pondok dan pindah ke sekolah umum demi mengejar ITB. disini hanya diceritakan sedikit tapi tidak mengurangi makna, lengkapnya ada di novel. lagi dan lagi saya bilang novelnya sungguh mengesankan buat saya. kata2 ibu alifwaktu alif ingin keluar dari pondok "maapkan amak sudah memaksakan keinginan amak tapi semua itu buat kebaikan waang, mak sudah menandatangi surat pindahan kamu. pesan mak DIMANAPUN WAANG SEKOLAH TIDAK PENTING YANG PENTING WAANG BERSUNGGUH-SUNGGUH" wah bener2 so sweet.
akhirnya singkat cerita, alif tidak jadi pindah sekolah. dia tetap di pondok. film ini diakhiri dengan pertemuan alif dan kedua temannya di eropa ^_^. semua sahibul menara bisa meraih impiannya, semua berawal dari mimpi, mari kita bermimpi, mari tuliskan mimpi kita. jangan takut untuk bermimpi, karena mimpi itu yang akan menggerakan arah jalan kita. dan satu lagi, feeling ibu selalu tepat dan saya menyakini itu sampai detik ini. tidak ada salahnya ketika kita menyatukan mimpi kita dengan ibu kita
yang saya sesalkan di buku ini adalah kenapa lakon randai kurang cakep dibandingkan alif. harusnya seimbang, karena alf dan randai dua bersahabat yang bersain secara sehat dalam semua hal. dan dalam imajinasi saya alif dan randai, 2 orang yang seimbang dan mungkin lebih jago randai karena di novel ke2 nya, diceritakan randai bisa mendapatkan apa2 yg alif inginkan :P. novel ke2nya sama2 seru dan saya sedang menunggu novel ke3. satu lagi dari film ini yang mengingatkan saya dengan impian masa kecil saya "menjadi jurnalis, bisa merubah dunia dengan kata"..... yup, dari dulu saya ingin merubah dunia dengan tulisan saya, minimal mempengaruhi orang dengan tulisan2 saya.... dan saya ingin jadi penulis.
sekian dan terima kasih (efek tidak ke RSGM)
Selasa, 28 Februari 2012
BUMI, BINTANG DAN SENJA
ya begitulah, aku memanggilnya bintang karena bagiku nama itu adalah
nama yang paling cocok untuknya, karena bintang selalu menghiasi malam
yang kelam, dan menghibur hati yang rindu akan datangnya mentari, selain
itu bintang mampu memancarkan sinarnya sendiri tanpa meminta sinar
orang lain.... begitulah, bintang sungguh menginspirasiku untuk
memanggil namanya dengan sebutan bintang karena memang dia adalah sosok
yang bersinar diantara bintang2 yang lain. kepandaiannya bener2 mampu
menyihirku, kemampuannya menganalisa sesuatu bener2 membuatku tertegun
sampai membuka mulut :P
semakin dekat bersahabat dengan bintang, semakin aku mengerti arti kemanusian dan perjuangan. semakin aku bersyukur dipilihkan Allah di jalan ini sebagai pengabdi pada nilai kemanusian. berteman dengannya membuatku rajin belajar, rasa inginku untuk mengalahkannya dalam hal ini pun menuntunku untuk semakin getol mengejar ketertinggalanku. semua pertanyaanku selalu mampu dijawabnya dan aku hanya bisa mengangguk membenarkanya. lama kelamaan rasa kagum itu berubah menjadi rasa minder
rasa minder itu kembali menempatkan diriku sebagai bumi yang tak pantas memiliki bintang yang bersinar terang, menurutku bintang hanya cocok bersanding dengan matahari karena mereka sama-sama memancarkan sinar dan sinar itulah yang selalu dirindukan semua makhuk di bumi, sedangkan bumi, bumi hanya berjodoh dengan bulan. bulan sosok yang kadang tidak diperhitungkan sama sekali, bulan yang tak pernah bisa memancarkan sinarnya sendiri dan hanya mampu memantulkan sinar dari matahri- si sosok sempurna itu. dengan pantulan sinar itulah, bulan selalu berharap agar bumi bahagia- tanpa kegelapan lagi. begitulah bulan berkorban untuk bumi, selain itu bulan selalu menemani bumi tanpa mengeluh, mengelilinya 24 jam. sekali lagi bumi hanya pantas berjodoh dengan bulan dan tak pantas berjodoh dengan bintang. lalu siapakah bulan itu?? aku pun tak tau sosoknya
ya begitulah aku mengenal bintang sebagai sosok yang sempurna, sesempurna nama yang aku sisipkan untuknya. ternyata mataku mulai perlahan terbuka, ternyata bintang bukanlah sosok yang sempurna seperti yang aku kira selama ini. tabir demi tabir kembali terbuka, perlahan tapi pasti sosok bintang tak sesempurna yang aku bayangkan....akhirnya sirna sudah rasa kagum itu
senja, seperti namanya dia adalah sosok penghubung antara siang dan malam. begitulah aku menamai senja, karena sosoknya yang mungkin biasa saja tapi warna jingganya selalu menghangatkan setiap insan, senja dengan sinarnya yang jingga hanya datang sekejap mata, tak pernah bertahan lama menemaniku, mungkin karena itulah aku selalu merindukan jingga.aku yang begitu mencintai indahnya malam, heningnya malam kini merindukan sosok senja, sosok yang hanya sekejap memperlihatkan penampakan dirinya di depanku. senja dengan pesonanya yang singkat mampu menyihirku mampu membuatku ingin mengakhiri siang, menunggu-nunggu datangnya senja. walo senja slalu datang dengan keangkuhannya dan mungkin tidak pernah menganggap bumi ada tapi diakui atau tidak senja turut mewarnai gelombang kehidupan bumi.
itulah yang menyebabkan aku begitu sedih ketika hujan datang karena hujan selalu megagalkan rencanaku menikmati senja, menikmati keangkuhannya, menikmati warna jingganya-warna keberanian yang mungkin hanya setengah. aku tidak tahu apakah senja ditakdirkan menemani bumi, ataukah senja hanya pengantar datangnya malam. tapi yang kini kurasa aku begitu merindukan datangnya senja dan aku begitu menikmati keangkuhan senja....
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
bagaimana kisah bumi dan senja selanjutnya??? kapankah bumi bertemu dengan bulan, kita tunggu kisah selanjutnya, kalo saya lagi ga sibuk...baru inget kalo blom bikin makalah endo. sampai kapan ni kerjaan klinik ku mengacaukan kesempatanku bikin cerpen....
cerita ini hanya fiktif belaka adapun kesamaan nama dan tempat itu hanya kebetulan belaka
semakin dekat bersahabat dengan bintang, semakin aku mengerti arti kemanusian dan perjuangan. semakin aku bersyukur dipilihkan Allah di jalan ini sebagai pengabdi pada nilai kemanusian. berteman dengannya membuatku rajin belajar, rasa inginku untuk mengalahkannya dalam hal ini pun menuntunku untuk semakin getol mengejar ketertinggalanku. semua pertanyaanku selalu mampu dijawabnya dan aku hanya bisa mengangguk membenarkanya. lama kelamaan rasa kagum itu berubah menjadi rasa minder
rasa minder itu kembali menempatkan diriku sebagai bumi yang tak pantas memiliki bintang yang bersinar terang, menurutku bintang hanya cocok bersanding dengan matahari karena mereka sama-sama memancarkan sinar dan sinar itulah yang selalu dirindukan semua makhuk di bumi, sedangkan bumi, bumi hanya berjodoh dengan bulan. bulan sosok yang kadang tidak diperhitungkan sama sekali, bulan yang tak pernah bisa memancarkan sinarnya sendiri dan hanya mampu memantulkan sinar dari matahri- si sosok sempurna itu. dengan pantulan sinar itulah, bulan selalu berharap agar bumi bahagia- tanpa kegelapan lagi. begitulah bulan berkorban untuk bumi, selain itu bulan selalu menemani bumi tanpa mengeluh, mengelilinya 24 jam. sekali lagi bumi hanya pantas berjodoh dengan bulan dan tak pantas berjodoh dengan bintang. lalu siapakah bulan itu?? aku pun tak tau sosoknya
ya begitulah aku mengenal bintang sebagai sosok yang sempurna, sesempurna nama yang aku sisipkan untuknya. ternyata mataku mulai perlahan terbuka, ternyata bintang bukanlah sosok yang sempurna seperti yang aku kira selama ini. tabir demi tabir kembali terbuka, perlahan tapi pasti sosok bintang tak sesempurna yang aku bayangkan....akhirnya sirna sudah rasa kagum itu
senja, seperti namanya dia adalah sosok penghubung antara siang dan malam. begitulah aku menamai senja, karena sosoknya yang mungkin biasa saja tapi warna jingganya selalu menghangatkan setiap insan, senja dengan sinarnya yang jingga hanya datang sekejap mata, tak pernah bertahan lama menemaniku, mungkin karena itulah aku selalu merindukan jingga.aku yang begitu mencintai indahnya malam, heningnya malam kini merindukan sosok senja, sosok yang hanya sekejap memperlihatkan penampakan dirinya di depanku. senja dengan pesonanya yang singkat mampu menyihirku mampu membuatku ingin mengakhiri siang, menunggu-nunggu datangnya senja. walo senja slalu datang dengan keangkuhannya dan mungkin tidak pernah menganggap bumi ada tapi diakui atau tidak senja turut mewarnai gelombang kehidupan bumi.
itulah yang menyebabkan aku begitu sedih ketika hujan datang karena hujan selalu megagalkan rencanaku menikmati senja, menikmati keangkuhannya, menikmati warna jingganya-warna keberanian yang mungkin hanya setengah. aku tidak tahu apakah senja ditakdirkan menemani bumi, ataukah senja hanya pengantar datangnya malam. tapi yang kini kurasa aku begitu merindukan datangnya senja dan aku begitu menikmati keangkuhan senja....
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
bagaimana kisah bumi dan senja selanjutnya??? kapankah bumi bertemu dengan bulan, kita tunggu kisah selanjutnya, kalo saya lagi ga sibuk...baru inget kalo blom bikin makalah endo. sampai kapan ni kerjaan klinik ku mengacaukan kesempatanku bikin cerpen....
cerita ini hanya fiktif belaka adapun kesamaan nama dan tempat itu hanya kebetulan belaka
Langganan:
Postingan (Atom)

